Menghadapi 'The Black Hole Corona'

Home / Kopi TIMES / Menghadapi 'The Black Hole Corona'
Menghadapi 'The Black Hole Corona' Henyk Nur Widaryanti S. Si., M. Si. Dosen Universitas Soerjo Ngawi. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESSUMSEL, NGAWI – Ramadhan telah usai. Lebaran baru saja berlalu. Ritual mudik mulai berkurang. Tapi, ramainya pasar dan tempat belanjaan tak akan pernah pudar.  Hadiah luar biasa di masa pandemi virus Corona (Covid-19) mulai dihadapi.

Bagaimana tidak? Tepat beberapa hari sebelum hari raya Idul Fitri, negeri ini menggapai prestasi yang sebelumnya belum pernah terjadi. Pada hari Kamis, tanggal 21/5/20 lonjakan besar paparan corona terkonfirmasi hingga 973 kasus. Hingga akhirnya total kasus corona di saat itu 20.162. 

Tentunya jumlah yang mencapai 1.000 ini bukan sekadar angka-angka buat kita. Jumlah tersebut seluruhnya adalah manusia. Penduduk negeri ini. Yang akhirnya mereka harus berjuang melawan corona yang menempel pada tubuhnya. Ada memang yang akhirnya selamat, tapi juga tidak sedikit yang akhirnya kehilangan nyawa. Tentunya, kita bicara keselamatan masyarakat adalah keselamatan bangsa. 

Pasca hari raya Idul Fitri ini, kita kembali diajak untuk menghadapi virus kasat mata. Dengan persiapan program "New Normal Life" masyarakat diharapkan tak lagi parno dengan si cantik Corona. Memulai hidup normal dengan aktivitas seperti sedia kala. Demi terus berputarnya roda ekonomi kehidupan negara. 

Oleh karena itu, mulai bulan Mei ini roda perekonomian dibuka secara bertahap. Beberapa Mall pun dibuka. Seperti Summarecon Mall Bekasi (SMB) Jawa Barat yang dikunjungi sekaligus dibuka oleh Bapak Jokowi (CNBCIndonesia, 26/5/20). Disusul beberapa mal seperti Grage Mall dan Grage City Mall di Cirebon juga dibuka. (TribunJabar, 28/5/20). Rencananya ada 60 mall yang akan dibuka menuju 'new normal life'.

Kalau kita fahami lebih teliti, saat mal tutup kemarin, masih banyak masyarakat yang tak mematuhi protokol kesehatan, apalagi social distancing. Pasar tumpah ruah, sarana perbelanjaan penuh. Hasilnya, kenaikan kasus Covid 19 bisa dua kali lipat. Bagaimana jika kita keluar rumah dan beraktifitas kembali? Bisakah ada jaminan dengan keselamatan kita semua? 

Pendapat Para Pakar

Bagaimana para ahli memandang kebijakan ini? Menurut Wakil Ketua Umum PB IDI dr. Adib Khumaidi kepada Republika, Senin (25/5/2020), kemungkinan akan terjadi lonjakan pasien Covid-19 pasca lebaran ini. Karena masih banyak masyarakat yang belum menjalankan protokol kesehatan sebelum atau selama lebaran.

Demikian pula Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra, memperkirakan akan ada lonjakan pasien Corona pasca lebaran ini. Jumlahnya bisa saja mencapai 1000 kasus per hari. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah mulai turun dan beraktifitas sedia kala. 

Melindungi Diri sendiri

"Mungkin kita berada pada kapal yang berbeda, tapi badai yang kita lalui sama. Maka, marilah saling mendukung dan jangan menyalahkan satu sama lain." 

Sepintas ajakan ini merupakan bahasa yang menenangkan hati. Tapi, benarkah? Kalau didalami, ada sebuah pesan yang tersirat. Kapal-kapal itu bagaikan keluarga, atau kelompok masyarakat yang sedang berjuang menghadapi badai Covid-19. Mereka berjuang menyelamatkan dirinya sendiri. 

Tak perlu menasehati cara kapal lain menghadapi badai. Tak usah mengajak kapal lain untuk sejalan dengan kapal kita. Yang penting kapal kita bisa selamat, itu cukup. Tanpa nahkoda yang satu kata. Tanpa kompas yang menunjukkan mana arah yang benar dan menyelamatkan. Mampukah kita menghadapi itu semua? 

Ketika tak ada kapal yang menjadi pemimpin. Tak ada siasat yang dipakai untuk melalui badai ini. Maka, dapat dipastikan akan ada ribuan kapal yang karam diterjang ombak ini. Di sinilah kita seakan banyak, tapi bagaikan buih dilautan. Egois dengan menyelamatkan kapalnya sendiri. 

Atau kita punya nahkoda, tapi sebatas nama saja. Ia tak mampu melindungi kapal lainnya dari serangan ombak. Bahkan bisa saja ia diam seribu bahasa melihat kapal karam, asalkan masih ada yang bisa selamat dan bertahan hidup. 

Merindukan Peran Pemimpin Sejati

Untuk menghadapi badai ini, apalagi ada kemungkinan akan terbentuk 'black hole Corona', kita memerlukan sosok pemimpin amanah. Ia adalah nahkoda yang memiliki kompas yang sehat. Yang mampu menunjukkan arah hidup yang benar. Bukan kompas reyot, usang bahkan rusak. Karena badai ini tak main-main. Salah belok sedikit, kapal bisa karam semua. 

Andai kompas itu adalah tongkat mukjizat seperti yang dimiliki Nabi Nuh untuk membelah lautan. Niscaya kapal-kapal kita tak akan karam. Sayangnya, hanya ada satu mukjizat yang tertinggal di bumi ini. Yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad. Maka, tinggal keyakinan sang nahkoda, mau mengambil kompas itu atau pilih kompas lainnya.

Wallahu'alam bishowab. (*)

***

*)Oleh : Henyk Nur Widaryanti S. Si., M. Si. Dosen Universitas Soerjo Ngawi.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com