Pers Tionghoa dalam Balutan Sejarah Indonesia

Home / Kopi TIMES / Pers Tionghoa dalam Balutan Sejarah Indonesia
Pers Tionghoa dalam Balutan Sejarah Indonesia Fariz Ilham Rosyidi, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga.

TIMESSUMSEL, SURABAYA – Hari Pers Nasional jatuh pada 9 Februari lalu. Namun, aroma peringatannya masih tercium hingga sekarang. Ragam informasi yang diejahwantahkan pers sejak dulu, rupanya telah membersamai kita sepanjang perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Lika-liku pers yang selama ini begitu dekat informasinya dengan kita, seakan menjadi agenda yang “spesial” untuk diperingati setiap tahunnya.

Disadari atau tidak, berkat kehadiran pers, kita dapat mengetahui suatu sistem informasi yang terbuka, dan turut memperluas cakrawala kita, lewat berita yang setiap harinya dihimpun oleh media massa alias pers. Dari situlah, kita dapat mengetahui kejadian dan perkembangan dunia, serta kejadian-kejadian apa saja yang terjadi di sekitar kita.

Berbicara tentang pers, ada banyak kondimen yang bisa disajikan dalam sebuah meja sejarah. Salah satu yang patut untuk disajikan adalah penggalian peranan orang-orang Tionghoa dalam sejarah pers Indonesia.

Ya, benar sekali, Tionghoa. Mereka adalah aktor-aktor dibalik layar yang ikut memperjuangkan pergerakan nasional Indonesia lewat tulisan bersama orang-orang Indo-Eropa, Melayu, Arab, dan tentunya Bumiputra yang terpelajar.

Sebermula pers Tionghoa

Ahmad Kosasih, dalam bukunya “Pers Tionghoa dan Dinamika Pergerakan Nasional di Indonesia” mengungkap, sejak abad ke-18, pers telah berkembang di Hindia Belanda. Ketika itu, dunia pers didominasi oleh orang Eropa dan berbagai pengaruh di dalamnya. Baru sekitar abad ke-19 sampai 20-an, pers mulai dimasuki oleh orang-orang non Eropa seperti Tionghoa dan Bumiputra. 

Ketika itu, pers hanya digunakan untuk pemberitaan dan kepentingan etnis masing-masing. Namun, ketika sistem politik etis yang digagas Van de Venter dkk dijalankan, mulai muncul ide-ide baru sebagai awal pemikiran gerakan nasionalisme, yang salah satu wadah terbesarnya adalah lewat media masa atau pers. 

Kemenangan Jepang atas Rusia pada tahun 1905, dan Revolusi Tiongkok pada tahun 1911, merupakan sumber inspirasi yang masif bagi pergerakan nasionalisme Tionghoa di Hindia Belanda. Namun, sebelum peristiwa besar itu terjadi, dengan mengikuti jejak orang-orang Indo-Eropa, komunitas Tionghoa telah menerbitkan beberapa surat kabar sebagai suara perlawanan atas Kolonial Belanda, meskipun jangkauannya masih terbilang kecil.

Ragam pers Tionghoa pun bermunculan, diawali dengan diterbitkannya surat kabar Li Po di Sukabumi, pada tahun 1901. Tak lama kemudian, disusul sejumlah surat kabar lain, seperti; Pewarta Soerabaia di Surabaya tahun 1902, Warna Warta di Semarang tahun 1902, Chabar Perniagaan di Jakarta tahun 1903, Djawa Tengah di Semarang tahun 1909, dan yang paling fenomenal di antaranya adalah Sin Po yang ada Jakarta tahun 1910.

Pada tahun 1920-an, kalangan Tionghoa rupanya tidak lelah berjuang, mereka kembali menerbitkan beberapa surat kabar lagi, antara lain; Bing Seng di Jakarta tahun 1922, Keng Po di Jakarta tahun 1923, Sin Jit Po di Surabaya tahun 1924, Soeara Poebliek di Soerabaya tahun 1925, Sin Bin di Bandung  1925, dan terus bertambah semakin banyak di tahun 1930-an, akibat pengaruh semangat “Anti-Jepang” yang digelorakan orang-orang Tionghoa.

Sin Po, pers yang berjasa besar

Sin Po adalah surat kabar yang jasanya cukup besar dalam memberikan warna sejarah Indonesia. Sejak pertama kali terbit pada 1 Oktober 1910, Yoe Sin Gie sang pencetus, ingin memberikan pembaharuan dalam perkembangan pers Tionghoa di Hindia Belanda.  Meskipun Sin Po awalnya secara terbuka mendukung nasionalisme China, dalam perkembangannya, ulasan pers itu juga menaruh perhatian khusus terhadap pergerakan kemerdekaan bagi Bumiputra.

Hal itu terbukti dengan dukungan Sin Po yang tercermin dalam pemilihan kata untuk urusan redaksional surat kabarnya. Seperti yang diberitakan Tirto.id, Sejak Mei 1926, Sin Po telah memelopori penggunaan sebutan “Indonesia” menggantikan “Hindia Belanda”, dan “Warga Indonesia” atau “Bangsa Indonesia” menggantikan “inlander”. Sebagai balas budi, pers Bumiputra juga mulai menggunakan kata “Tionghoa” untuk menggantikan China, dan menamakan “Tiongkok” dalam menyebut negara asal. Puncaknya, setelah Sumpah Pemuda kedua tanggal 28 Oktober 1928, Sin Po mulai menyebut “Bahasa Indonesia” yang menggantikan sebutan “Bahasa Melayu”. Penamaan istilah tersebut merupakan bentuk dukungan pers Tionghoa bagi Bangsa Indonesia.     

Akhir kisah pers Tionghoa

Melihat kenyataan semakin maraknya gerakan nasionalisme, ditambah semakin menggeliatnya pers di Hindia Belanda yang tidak sepaham dengan kolonial. Maka, Pemerintah Hindia Belanda tidak tinggal diam, dengan segala cara ditempuh untuk menghambat perkembangan pers nasional, antara lain tidak hanya dengan mengancam akan menggunakan undang-undang yang berlaku, ditambah dengan Pers Breidel Ordonantie, yaitu kebijakan yang memberi hak kepada pemerintah kolonial Belanda untuk menghentikan penerbitan yang dianggap berpandangan progresif mendukung gerakan nasionalisme pribumi dan dapat membahayakan kedudukan pemerintah kolonial Belanda.

Sejak kebijakan itu dilaksanakan, pers di Indonesia mulai meredup. Banyak dari pemilik perusahaan surat kabar yang ditangkap dan gulung tikar. Faktor tersebut merupakan salah satu faktor yang melandasi mundurnya atau berkurangnya media masa Tionghoa di Indonesia pada saat itu. Khusus untuk Sin Po, media itu masih terus melakukan aktivitas penerbitan sampai masa Indonesia merdeka, dan baru benar-benar berakhir pasca peristiwa G 30S tahun 1965. 

Surat kabar yang punya andil cukup besar bagi pergerakan nasional Indonesia itu bisa dinikmati arsip digitalnya sekarang di Monash University, Australia, sebagai “tambahan” catatan sejarah Indonesia. Adalah jasa dari Profesor Charles Coppel, Indonesianis asal Australia bersama kawan-kawannya, yang telah menghimpun dan mendigitalisasi berbagai arsip weekblad (mingguan) dan harian itu selama satu tahun di kampus yang terletak di Melbourne tersebut.  

Dan yang terakhir, saat ini, atau menginjak seperempat bulan di tahun 2020, negara Tiongkok sedang menghadapi wabah virus mematikan, Covid-19, atau kita lebih mengakrabinya dengan sebutan Virus Corona. Wabah mematikan ini tentu menjadi urusan internasional, tak terkecuali kita, Bangsa Indonesia. Jika dulu nasionalisme adalah pemersatu dalam melawan penjajahan, sekarang ini bentuk berbagai dukungan dapat kita lakukan. semoga virus yang mematikan ini dapat segera ditangani dan dimusnahkan sebagaimana penjajahan di masa lalu. Jiayou!

***

*) Penulis: Fariz Ilham Rosyidi, Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com