Kisah Eka Meynia: Sampah Plastik Itu Membawanya Terbang ke AS

Home / Gaya Hidup / Kisah Eka Meynia: Sampah Plastik Itu Membawanya Terbang ke AS
Kisah Eka Meynia: Sampah Plastik Itu Membawanya Terbang ke AS Eka Meynia Penggiat Videogreenesia di Palembang yang berkesempatan Studi Singkat Di Amerika Serikat (Foto : Istimewa)

TIMESSUMSEL, PALEMBANG – Tidak terpikirkan sebelumnya bagi Eka Meynia jika akhirnya bisa menginjakan kakinya ke negeri Paman Sam Amerika Serikat. Bahkan, walaupun sejak kecil ingin ke luar negeri, namun ia tidak berani mimpi.

Namun kemauan kerasnya menentukan jalan hidupnya. Mahasiswi Stisipol Candradimuka Palembang ini jadi kenyataan bisa mengunjungi negeri Donald Trump itu. "Saya harus menyemangati diri sendiri, dan berusaha acuh dengan semua anggapan banyak orang," katanya.

Dia sedikit bercerita ketika SD-SMA, ia tidak diperbolehkan mengikuti organisasi. Yang harus ia lakukan hanyalah belajar dan sekolah. Karena bagi keluarganya organisasi dan extrakulikuler hanya membuang waktu.

"Bahkan, ketika saya lulus menjadi anggota OSIS, saya dimarahi habis-habisan karena saya pulang terlambat,"terangnya sambil tersenyum.

Ketika ingin melanjutkan kuliah tahun 2015, Eka ditolak UI, UGM, dan UNSRI alias tidak lulus. Waktu itu, dia merasa bahwa apakah begitu sebodoh ini sehingga tidak diterima universtias negeri membuat berfikir tidak punya masa depan yang cerah.

Eka-Meyni-a.jpg

Akhirnya terpaksa penggiat komunitasi lingkungan melanjutkan kuliah di salah satu kampu swasta di Palembang dengan jurusan yang sangat disenanginya yaitu Sastra Inggris.

"Semester 3 saya sempat malas masuk kuliah dengan alasan kampus swasta tidak akan membuat saya sukses, dan itu pertama kalinya saya melihat orang tua saya menangis meminta saya kembali kuliah," ujar Eka.

Pada 2016, dia mengambil satu kuliah lagi (double degree) dengan jurusan yang tidak disenangi. YAkni Ilmu Politik di Stisipol Candradimuka. Tapi ternyata, saya berkembang di kampus ini, semester 1 mulai aktif mengikuti lomba bahkan bisa ke luar kota gratis menggunakan pesawat pertama kalinya.

"Mulai dari sini saya aktif diluar dan berkembang, tapi sayangnya saya harus berhenti kuliah di Sastra Inggris di semester 5 karena saya tidak terlalu didukung untuk aktif diluar, dan membuat IPK saya hanya 1,2," terang Eka

Saat skripsi ini pertengahan 2018 pihaknya mengikuti kegiatan Climate Vlogger di Jakarta. "Setiap peserta harus membawa botol minum, dan aku bingung kenapa harus bawa botol. Padahal acaranya di hotel. Ternyata alasannya untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai,'' katanya.

Melalui Gerakan Environmentrip dan Vlogreenesia inilah jadi kegiatan pertama yang buat untuk mengedukasi banyak orang mengenai plastik sekali pakai.

"Saya sering mendapatkan komentar negatif dari orang-orang, sampai beberapa pengguna instagram mengirim pesan “alah bacot!," ungkapnya kepada TIMES Sumsel (timessumsel.com) (TIMES Indonesia Network).

Tidak hanya itu, sering dibilang pemulung dan tidak ada kerjaan karena mengurusi sampah. Belum lagi cafe-cafe yang ingin diajak bekerjasama, semuanya menolak dengan berbagai alasan. Sempat ingin berhenti rasanya, tidak kuat, terlalu banyak komentar-komentar negatif dan juga penolakan.

Eka-Meyni-b.jpg

Namun, September 2018 karena program Vlogreenesia inilah dia lulus program beasiswa ke Papua, bahkan menjadi satu satunya delegasi dari Sumatra dalam program School of Eco Diplomacy.

"Dari sini saya mulai percaya diri untuk mengkampanyekan stop penggunaan plastik sekali pakai. 2 bulan kemudian, teman teman yang tadinya menghina malah membawa botol minum, terinspirasi,” katanya dengan semangat.

Kemudian selanjutnya Eka Meynia mencoba peruntungan beasiswa YSELAI ke Amerika tapi hanya lulus sampai tahap wawancara. 1 minggu hanya bisa menangis di kamar, uring-uringan tidak jelas.

"Kemudian bangkit lagi, Juni 2019, aku mendaftarkan diri lagi dan kali ini tidak boleh gagal. YSEALI Academic Fellowship dibuka selama 1 bulan. Aku benar benar belajar buat essay, nyari referensi, keluaga liburan aku ngak ikut, teman-teman ngajak liburan juga aku tolak. Aku juga selalu coaching sama senior-senior yang pernah ke Amerika,"ungkap Mahasiswi yang fasih bahasa Inggris ini.

Lalu, ketika dii Coaching pernah dimarah- marahin karena essay aku ternyata biasa aja, dan harus bikin ulang, abis itu revisi, ngulang lagi, dan revisi lagi. 1 bulan penuh berkutik di essay dan dimarah-marahin.

"Setelah itu, pengumuman tahap wawancara, dan aku lulus. Kurang lebih ada waktu 2 minggu untuk persiapan, dan aku masih dicoaching sama senior senior,"ceritanya.

Pada sesi ini dikatakannya para mentor mempertanyakan serius tidak mau ke Amerika?. Lalu dikasih PR untuk nyari data tentang Amerika, tentang sampah plastik di Palembang.

Pertemuan berikutnya, merasa cukup siap dengan data-data dan para senior cukup puas dengan jawaban. Ketika semuanya sudah aku persiapkan, kesalahan- kesalahan waktu mendaftar pertama kali juga sedah diperbaiki. Baru sadar bahwa satu hal yang harus benar-benar diperbaiki, yaitu komunikasi dan meminta restu tuhan.

Saat wawancara kali ini lancar, semuanya anugrah dari tuhan. 2 minggu tanpa kabar, tiba tiba pengumuman bukan lewat email tapi WA. Pagi itu, ketika lagi dijalan menuju tempat rapat, ternyata orang Konsulat Amerika Medan menghubunginya melalui WA, banyak panggilan tak terjawab dari senior-senior juga.

Sampainya di tempat rapat, tidak pernah pernah langsung buka HP dan data nya hidup, aku langsung buka HP, dan seketika itu seniornya menelpon. " “Eka, kemana aja, Kamu tu mau ke Amerika ngak? Dicariin sama Konsulat Amerika Medan. Kalo kamu 5 menit ngak ngehubungin dia, kamu ngak jadi lulus ke Amerika,"ungkap dengan rasa cukup terkejut.

Pihaknya langsung menghubungi Konsulat, dan Alhamdulillah tetap lulus. Dan seketika itu merasa lemas, dan spontan mikir.

“Ini keajaiban Allah, ada ribuan orang Indonesia yang mendaftar, dan hanya 8 orang yang terpilih. Semua tanpa biaya, dari mulai pembuatan visa sampai ke Amerika,"ceritanya dengan gamblang.

Akhirnya pada 25 September 2019, Dia berangkat ku USA, 14 jam perjalanan Jakarta-Hawaii, dan akan menghabiskan waktu 5 minggu di Amerika. 3 Minggu belajar di East West Center (bagian riset dari University of Hawaii). Baca buku, diskusi, bertemu politisi, dan kunjungan kebeberapa instansi.

Kemudia  1 minggu di California disini tetap baca buku dan diskusi, hanya saja sambil mengexplore Yosemite National Park, San Francisco, Merced, dan ke University of California Barkeley.

"Lalu, seminggu di Washington, DC mengunjungi museum museum, White House. U.S Capitol, bertemu politisi, dan acara wisuda," ujarnya dengan senang bercerita.

Setelah program berakhir, 21 pemuda terbaik Asia Tenggara kembali ke negara masing masing, dan diharapkan bisa menjadi pemimpin yang bisa merubah negaranya lebih baik.

"Dan saya sadar bahwa sukses atau tidaknya seseorang tidak bergantung pada diri kita dimanapun studi kita. Dari sini saya mulai percaya diri mengakui bahwa saya adalah mahasiswa swasta, yang pernah berhenti kuliah karena lebih memilih berkembang diluar kampus," kata Eka Meynia. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com